Selasa, 14 Juni 2011

PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK


Orang cerdas hanya menjadi pelayan bagi mereka yang memiliki gagasan, dan orang yang memiliki gagasan besar melayani mereka yang memiliki karakter yang sangat kuat, sementara orang  yang memiliki karakter yang sangat kuatmelayani mereka yang berhimpun pada diri mereka karakter yang sangat kuat, visi yang besar, gagasan-gagasan yang cemerlang, dan pijakan ideologi yang kukuh.
      
            Kalimat di depanlah yang dipakai Muhammad Fauzil Adhim ketika mengawali pembahasan tentang pembangunan karakter positif pada anak dalam salah satu buku beliau, Positive Parenting.  
            Kita seolah-olah disuguhi gambaran detail tentang sosok pribadi yang berkarakter sangat kuat melalui kalimat tersebut. Sosok pribadi yang berkarakter ini tak hanya cerdas lahir batin, tetapi juga memilki kekuatan untuk menjalankan sesuatu yang dipandangnya benar dan mampu membuat orang lain memberikan dukungan terhadap apa yang dijalankannya tersebut. Dengan modal seperti itu, orang tersebut akan dengan mudah mewarnai dunia. Dia dianggap pemimpin bagi orang disekelilingnya. Jika yang dititahkannya adalah kebajikan maka dunia akan segera dipenuhi oleh kebajikan, sebaliknya jika yang ditiahkannya adalah kejahatan maka dunia akan dipenuhi oleh kejahatan yang dilakukan olehnya dan pengikutnya.
            Dari ilustrasi diatas kita dapat melihat bahwa karakter adalah bagaikan pisau bermata dua. Mata pisau yang pertama bisa kita pakai untuk mengiris sayur dan memotong daging. Sedangkan mata pisau berikutnya bisa saja dipakai untuk melukai muka kita sendiri. Setiap karakter memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Anak yang memiliki keyakinan yang tinggi akan memiliki dua kemungkinan yang berbeda. Kemungkinan pertama adalah tumbuhnya sikap yang berani sebagai buah dari keyakinannya yang kuat. Sedangkan kemungkinan yang kedua adalah munculnya sikap sembrono dan kurang perhitungan karena terlalu yakin dengan kemampuannya. Demikian juga dengan rasa takut. Rasa takut akan melahirkan sikap hati-hati di satu sisi, atau sikjap pengecut di sisi yang lain.
            Karena itulah diperlukannya pendidikan karakter. Dengan pendidikan karakter, setiap dua sisi yang melekat pada setiap karakter hanya akan tergali dan terambil sisi positifnya saja. Sementara itu, sisi negatifnya akan tumpul dan tidak berkembang. Rasa yakin akan menimbulkan keberanian bukan kesembronoan. Rasa takut akan melahirkan kehati-hatian bukan kepengecutan. Rasa malu akan menimbulkan kesopanan bukan rasa minder. Di sinilah peran orang tua sangat penting dalam membentuk karakter anak.
Bagian Pertama

Minggu, 29 Mei 2011

TAMAN KANAK-KANAK

Taman kanak-kanak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas












Taman kanak-kanak atau disingkat TK adalah jenjang pendidikan anak usia dini (yakni usia 6 tahun atau di bawahnya) dalam bentuk pendidikan formal. Kurikulum TK ditekankan pada pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Lama masa belajar seorang murid di TK biasanya tergantung pada tingkat kecerdasannya yang dinilai dari rapor per semester. Secara umum untuk lulus dari tingkat program di TK selama 2 (dua) tahun, yaitu:
  • TK 0 (nol) Kecil (TK kecil) selama 1 (satu) tahun
  • TK 0 (nol) Besar (TK besar) selama 1 (satu) tahun
Umur rata-rata minimal kanak-kanak mula dapat belajar di sebuah taman kanak-kanak berkisar 4-5 tahun sedangkan umur rata-rata untuk lulus dari TK berkisar 6-7 tahun. Setelah lulus dari TK, atau pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah lainnya yang sederajat, murid kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi di atasnya, yaitu Sekolah Dasar atau yang sederajat.
Di Indonesia, seseorang tidak diwajibkan untuk menempuh pendidikan di TK.

Selasa, 24 Mei 2011

HAk Anak

Membicarakan kelangsungan hidup dimuka bumi ini adalah membicarakan manusia, karena manusia merupakan makhluk paling dominan dalam kehidupan dan lebih khusus untuk kelangsungan hidup masa dengan tergantung pada anak sebagai generasi penerus. Anak merupakan bagian dari generasi muda, penerus cita-cita dan perjuangan bangsa. Disamping itu anak merupakan sumber daya manusia yang perlu mendapatkan perhatian dan perlindungan dari berbagai ancaman dan gangguan agar supaya hak-haknya tidak terabaikan. (Sri Sugiharti, 2005: 1)
Tentang apa saja hak anak, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengeluarkan resolusi No. 44/25 tentang konvensi hak-hak anak (Convention on the Rights of the Child) tertanggal 20 November 1989. Konvensi ini telah diratifikasi Indonesia pada tanggal 25 Agustus 1990 dengan keputusan presiden nomor 36 tahun 1990. sekarang ini Indonesia sudah mempunyai UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang didalamnya memuat 4 hak dasar anak yaitu:
1. Hak untuk memperoleh keberlangsungan hidup
2. Hak untuk tumbuh dan berkembang
3. Hak untuk berpartisipasi
4. Hak untuk memperoleh perlindungan
Menurut Noor Siswanto (2002:5) secara lebih terinci ada sebelas hak yang dimiliki oleh anak antara lain : (1) hak untuk didaftar sejak kelahirannya, hak atas nama, memperoleh kewarganegaraan dan sejauh mungkin mengetahui dan dipelihara oleh orang tuanya ; (2) hak mempertahankan identitas ; (3) hak tidak dipisahkan dengan orang tua ; (4) hak berhubungan dengan orang tua ; (5) hak menyatakan pendapat, kemerdekaan berpikir, beragama ; (6) hak kemerdekaan berserikat dan berkumpul ; (7) hak memperoleh bantuan khusus dari negara bagi anak yang kehilangan lingkungan keluarga ; (8) hak menikmati norma kesehatan tertinggi dan hak memperoleh pendidikan ;(9) hak memperoleh pemeliharaan, perawatan serta perlindungan ; (10) hak untuk beristirahat, bersantai, bermain dan hak untuk turut serta dalam kegiatan rekreasi dan ; (11) hak untuk dilindungi dari eksploitasi ekonomi, eksploitasi seksual dan kegiatan yang bersifat pornografis serta pemakaian narkoba.
Hak-hak anak tersebut perlu diwujudkan agar tumbuh kembang anak dapat berlangsung optimal. Dengan adannya hak-hak tersebut sudah barang tentu menjadi kewajiban keluarga, masyarakat dan bangsa (termasuk didalamnya institusi pendidikan) untuk memenuhinya.
Keberhasilan bangsa ini dalam mencetak generasi yang berkwalitas menurut Sri Mirmaning Tyas (2005:10) sesungguhnya tidak dapat hanya disandarkan pada institusi pendidikan semata. Peran masyarakat luas, keluarga besar, pemerintah, swasta, dunia bisnis hingga orang tua sendiri perlu dimaksimalkan. Mendasarkan pada hak dasar anak maka hak yang paling sering diabaikan adalah hak partisipasi anak dalam menentukan arah perkembangan dirinya. Orang dewasa, guru, orang tua, pendidik sering kali merasa lebih berhak menentukan apa yang terbaik bagi anak tanpa mempertimbangkan basis karakter anak. Sehingga yang terjadi kemudian amat banyak orang tua yang “Gagal” didik sejak kecil itu, melahirkan anak-anak yang “Gagal” seperti dirinya.
 "saduran artikel"

Daftar Pustaka
Noor Siswanto. 2002. “Konvensi Hak Anak Sebagai Prinsip Perlindungan Anak”. Makalah. Yogyakarta : Dinas Sosial Propinsi DIY.

Sri Mirmaningtyas. 2005. “Pendidikan Karakter Anak dan Masa Depan Bangsa”. Kedaulatan Rakyat 21 Juli 2005

Sri Sugiharti. 2005. Penjajagan Kebutuhan Tentang Pemenuhan Hak Anak di Dusun V Peranti Desa Gadingharjo Kecamatan Sanden Kabupaten Bantul DIY. Yogyakarta : Balitbang BKKBN DIY.

Jumat, 20 Mei 2011

Peran Guru terhadap Pendidikan karakter di Sekolah

Peran Guru terhadap Pendidikan karakter di Sekolah
Peran Guru terhadap Pendidikan karakter di Sekolah

1. Pendahuluan
Lembaga pendidikan dan guru dewasa ini dihadapkan pada tuntutan yang semakin berat, terutama untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu menghadapi berbagai dinamika perubahan yang berkembang dengan sangat cepat. Perubahan yang terjadi tidak hanya berkaitan dengan dinamika perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga menyentuh perubahan dan pergeseran aspek nilai dan moral dalam kehidupan masyarakat. Contoh, dekadensi moral dan karakter buruk yang ditunjukkan siswa sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam dunia pendidikan. Kekerasan yang dilakukan pelajar kian memprihatinkan, seperti aksi premanisme yang dilakukan oleh pelajar yang tergabung dalam Geng Nero (Nekoneko dikeroyok), vidio porno yang dilakukan olah pelajar ( jambi ekspres, 24 maret 2011) dan banyak lagi perilaku kekerasan lainnya. Geng Nero barangkali hanya salah satu potret dari sekian banyak geng yang ada di lingkungan masyarakat yang dilakukan oleh pelajar. Kejadian ini mungkin juga pernah dialami oleh sekolah-sekolah lain, namun tidak terekspos media massa. Selain perilaku kekerasan, juga isu-isu moralitas di kalangan remaja, seperti penggunaan narkotika, pornografi, perkosaan, perampasan, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas.

Akibat yang ditimbulkan cukup serius dan tidak dapat lagi dianggap sebagai suatu persoalan sederhana karena tindakan-tindakan tersebut telah menjurus kepada tindakan kriminal. Banyak orang berpandangan bahwa kondisi demikian diduga berawal dari apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan. Pendidikanlah yang sesungguhnya paling besar memberikan kontribusi terhadap situasi ini. Dalam konteks pendidikan formal di sekolah, bisa jadi salah satu penyebabnya karena pendidikan di Indonesia lebih menitikberatkan pada pengembangan intelektual semata. Aspek-aspek yang lain yang ada dalam diri siswa, yaitu aspek afektif dan kebajikan moral kurang mendapatkan perhatian. Koesoema (Kompas, 1 Desember 2009) menegaskan bahwa integrasi pendidikan dan pembentukan karakter merupakan titik lemah kebijakan pendidikan nasional. Sekolah dan para guru memegang peran dan tanggungjawab yang lebih besar dalam pembelajaran siswa, tidak hanya ditunjukkan untuk memenuhi harapan agar kinerja siswa berhasil dalam aspek kognitif yang tercermin dari hasil tes dan tingkat kelulusan lebih tinggi dalam ujian nasional (UN), tetapi harus menekankan pada aspek afektif. Dengan kata lain, peningkatan dan penekanan pada aspek kognitif harus diimbangi dengan upaya peningkatan dalam aspek pengembangan afektif siswa atau dalam arti pendidikan karakter dan kebajikan moral juga tidak boleh diabaikan. Keadaan ini nampaknya sudah dipahami dan disadari pemerintah, dalam hal ini oleh Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Muhammad Nuh. Mendiknas menyatakan kerisauan dan kerinduan banyak pihak untuk kembali memperkuat pendidikan karakter dan budaya bangsa. Pemerintah bertekad untuk memperkuat karakter dan budaya bangsa tersebut melalui pendidikan di sekolah (Kompas, 15 Januari, 2010).
Ketika sekolah didirikan, salah satu misi utamanya adalah untuk mengajar kebajikan moral (Mondale & Patton, 2001; Mulkey, 1997). Banyaknya penyimpangan moral di kalangan anak anak dan remaja saat ini menjadikan tugas guru dan perancang bidang pendidikan moral sangat rumit. Menurut Koesoema (2009:14), di tengah perubahan tata nilai dalam masyarakat yang begitu cepat, guru tetap dituntut untuk menjaga integritas dasarnya sebagai pendidik karakter. Artinya, dalam kondisi tersebut guru dituntut dan tetap konsisten dapat menegakkan dan membangun moral dan karakter yang baik bagi para peserta didik. Guru diharapkan untuk mengajar dan mendisiplinkan siswa sehingga dapat menghormati otoritas dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan pelajaran. Hingga dewasa ini, tampaknya harapan-harapan ini pada dasarnya tetap tidak berubah. Guru memiliki peran yang sangat besar dan berpengaruh dalam kehidupan peserta didik, oleh karenanya masyarakat masih tetap berharap para guru untuk menampilkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai moral, seperti keadilan, kejujuran, dan mematuhi kode etik profesional. Sebuah kebajikan sosial dihargai secara sosial, sementara kebajikan moral, seperti kejujuran, dihargai secara moral. Menurut Lickona (1991), sekolah dan guru harus mendidik karakter, khususnya melalui pengajaran yang dapat mengembangkan rasa hormat dan tanggung jawab.
Peran Guru sebagai Model dalam Pembelajaran Karakter dan Kebajikan Moral. Dalam tugasnya sebagai pendidik dan pengajar, guru berinteraksi dengan siswa, sangat penting bagi para guru untuk melayani dan berperan sebagai model pengembang karakter dengan membuat penilaian dan keputusan profesional yang didasarkanpada kebajikan sosial dan moral. Koesoema (2009:134) menegaskan bahwa terlepas dari berbagai macam posisi yang disandangnya, sadar atau tidak, perilaku dan tindakan guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya merupakan wahana utama untuk pembelajaran karakter.
Seseorang yang berkarakter memiliki kebijaksanaan untuk mengetahui dan membedakan mana yang benar dan mana yang salah; jujur, dapat dipercaya, adil, hormat, dan bertanggung jawab; mengakui dan belajar dari kesalahan; dan berkomitmen untuk hidup menurut prinsip-prinsip ini. Lickona (1991) menunjukkan bahwa karakter adalah penjelasan fenomena universal dari orang-orang yang memiliki keberanian dan keyakinan untuk hidup dengan kebajikan moral. Karakter mencakup berbuat sesuatu menjadi lebih baik dan melakukan yang benar, sementara perilaku tidak etis merupakan antitesis karakter. Setiap kali siswa terjebak dalam permainan emosi, seperti melukai orang lain atau berperilaku curang untuk menang dalam suatu lomba atau pertandingan, tidak akan menjadi baik atau melakukan hal yang tidak benar. Demikian pula, jika siswa menyontek pada saat ujian atau menjiplak tulisan dari koran untuk mendapatkan nilai yang lebih baik, pada hakikatnya tidak memiliki karakter dan dasar moral yang esensial. Kajian-kajian ilmiah tentang perikalu tidak terpuji (amoral) yang dilakukan siswa dalam dunia pendidikan di Indonesia sangat terbatas. Namun, di negara-negara maju seperti di Amerika sudah sangat berkembang, survei nasional yang dilakukan oleh The Ethics of American Youth, dari Josephson Institute of Ethics (2006), diketahui bahwa perilaku siswa dalam jangka waktu 12 bulan, yaitu (a) 82% mengakui bahwa mereka berbohong kepada orangtua; (b) 62% mengakui bahwa mereka berbohong kepada seorang guru tentang sesuatu yang signifikan; (c) 33% menjiplak tugas dari internet; (d) 60% menipu selama pelaksanaan ujian di sekolah; (e) 23% mencuri sesuatu dari orang tua atau kerabat lainnya; (e) 19% mencuri sesuatu dari seorang teman, dan (f) 28% mencuri sesuatu dari toko.
Erosi karakter dan perilaku tidak terpuji yang menerpa siswa sebagaimana tersebut di atas merupakan gejala umum yang berlaku di mana-mana, termasuk di Indonesia. Sudah cukup banyak contoh dan perilaku tidak jujur yang dilakukan individu dalam dunia pendidikan, mulai dari siswa yang mencontek, menjiplak hasil karya orang lain tanpa menyertakan sumber, mencari- cari alasan untuk lari dari tanggung jawab atas tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh guru (Koesoema, 2009:183). Kondisi ini menegaskan bahwa para guru yang mengajar mata pelajaran apa pun harus memiliki perhatian dan menekankan pentingnya pendidikan moral dan karakter pada para siswa. Namun di sisi lain perilaku tidak etis yang ditunjukkan oleh siswa tersebut bertolak belakang dengan tanggapannya yang mengakui dan percaya bahwa karakter itu penting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) 98% berkata, "Sangat penting bagi saya untuk menjadi orang dengan karakter yang baik"; (b) 98% berkata, "Kejujuran dan kepercayaan sangat penting dalam hubungan pribadi"; (c) 97% berkata, "Ini penting bagi saya bahwa orang percaya padaku"; (d) 83% berkata, "Ini tidak layak untuk berbohong atau menipu karena bertentangan dengan karakter". Dalam laporan tersebut juga disimpulkan bahwa semakin meluas dan mendalam perilaku kontradiktif yang terjadi mencerminkan sikap sinis siswa itu sendiri dalam proses rasionalisasi dengan cara mengabaikan kebenaran penilaian etika dan perilaku yang dinyatakan bertentangan dengan keyakinan moral (Josephson Institute of Ethics, 2006). Siswa menyatakan bahwa karakter itu penting, tetapi di sisi lain berbohong, menipu, dan mencuri. Tulisan ini ingin mencoba mengkaji bahwa model perilaku berbudi luhur disekolah.
Berdasarkan uraian tentang latar belakang permasalahan tersebut di atas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana peran guru dalam pendidikan karakter bangsa disekolah ?
Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah memberikan pemahaman tentang peran guru terhadap pendidikan karakter bangsa di sekolah.
Adapun manfaatnya adalah :
1. Bagi sekolah, sebagai bahan masukan kepada kepala sekolah dan instansi pendidikan untuk lebih memperhatikan permasalahan-permasalahan akhlak dan budi pekerti siswa sehingga dalam perkembangan anak tersebut mampu menghadapinya dan menyelesaikannya sesuai yang diharapkan.
2. Bagi penulis, penelitian ini sebagai sarana untuk menerapkan kebenaran teori-teori yang ada dengan keadaan yang lebih nyata.
3. Bagi siswa, sebagai bahan masukan dan renungan bagi siswa untuk mengintrospeksi diri terhadap masalah yang dihadapinya, sehingga mampu menyelesaikan kesulitannya sendiri dan sanggup menghadapi tantangan hidup dan kehidupan yang semakin berat dan sangat komplek. 

saduran dari artikel....

Rabu, 13 April 2011

Aspek – Aspek Pendukung Dynamic Teaching

Guna mendukung pengembangan TK Tunas Kasih, ada berbagai aspek yang menjadii prioritas program, meliputi :
  • Aspek Proses Belajar Mengajar
Peningkatan kreatifitas yang menitik beratkan pada pengembangan kurikulum dan kegiatan – kegiatan yang dilakukan serta sarana pendukung guna mendukung proses belajar mengajar. 
  • Aspek Keamanan dan Kenyamanan Lingkungan Belajar
Peningkatan penyediaan prasarana yang mendukung proses berlajar mengajar menjadi nayaman. 
  • Aspek Pelayanan Sosial
Upaya pelayanan sosial untuk membantu keluarga yang tidak mampu melalui        orang tua asuh.
  • Aspek Pengembangan Sumber Daya Manusia
Peningkatan kapabilitas pengelola, guru dan karyawan guna mendukung proses belajar mengajar      

Senin, 11 April 2011

Kompetensi melalui “Dynamic Teaching

Pengalaman yang panjang melahirkan proses yang dinamis dalam pembelajaran. Pengelola dan para guru berusaha untuk kreatif dalam mengajar anak – anak. Sesuai tujuan yang diprogramkan maka dipikirkanlah konsep pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Dynamic teaching merupakan model pembelajaran yang dinamis untuk anak – anak. Pada dasarnya konsep ini dikembangkan untuk merespon kondisi dan situasi termasuk perkembngan sosial dan teknologi sesuai dengan sumberdaya Taman Kanak – Kanak. Program pendidikan ini direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pendidikan TK Tunas Kasih.

Proses ini dilakukan bersama oleh Kepala Sekolah, guru bersama siswa dan orang tua. Rencana dan pengaturan kompetensi yang dibakukan untuk mencapai tujuan nasional, cara pencapaiannya disesuaikan kedaan dan kemampuan sekolah. Proses ini dicapai dicanangkan melalui kompetensi yang menjadi unggulan TK Tunas Kasih. Kompetensi tersebut meliputi berbagai bidang kemampuan dasar. Bidang pengembangan kemampuan dasar merupakan kegiatan yang dipersiapkan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan dan kreativitas sesuai dengan tahap perkembangan anak antara lain :

  • Kemampuan dasar bahasa
  • Kemampuan dasar kognitif
  • Kemampuan dasar fisik dan motorik
  • Kemampuan dasar seni

Jumat, 08 April 2011

Pengalaman Gempa Bumi dan Proses Belajar

Sekitar lima tahun lalu Taman Kanak – Kanak Tunas kasih turut menjadi saksi dalam peristiwa bencana 27 Mei 2006. Gedung TK yang baru saja selesai dibangun dan direnovasi pada sehari sebelumnya, ikut hancur karena gempa bumi yang melanda wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Pasca gempa, selama hampir 3 bulan anak – anak belajar di bawah tenda, kemudian menempati ruangan di gereja darurat GKJ Prambanan. Peristiwa gempa bumi tersebut memberikan pengalaman yang sangat khusus bagi anak – anak dan para guru, tentang suka – duka dalam belajar. Kelak di kemudian hari pastilah kenangan bagaimana beratnya belajar pada masa – masa tersebut, tanpa gedung tanpa fasilitas yang memadai semua serba darurat.

Gedung TK selesai di bangun, dan telah digunakan untuk aktivitas belajar mengajar mulai bulan April 2007. Gedung ini menempati area seluas 300 meter persegi, dengan luas bangunan 150 meter persegi, yang terdiri dari ruang belajar, ruang guru dan ruang pertemuan. Memang kini setelah empat tahun berlalu, kegiatan belajar mengajar telah berjalan normal. Seiring dengan kondisi yang semakin baik, maka Komisi perlu memikirkan perkembangan ke depan TK Tunas Kasih, baik sumberdaya, fasilitas maupun pendanaan.

Minggu, 03 April 2011

Keunikan TK Tunas Kasih

Keunikan TK ini terletak pada konsep pelayanan, dimana di wilayah kecamatan Prambanan merupakan satu – satunya TK Kristen. Prinsip kasih merupakan spirit yang diusung dalam proses belajar mengajar, tidak hanya untuk anak – anak Kristen namun untuk semua anak. Sebagai catatan anak – anak TK Tunas Kasih banyak di antaranya berasal dari keluarga non Kristen. Daya tarik ini disebabkan oleh :

  • Pengalaman
TK cukup lama dalam pengajaran, telah melayani anak  anak lebih dari 30 tahun
  • Pelayanan
Konsep pelayanan mendasari pengelolaan dan semangat para pengajar
  • Sosial
Konsep sosial dilakukan untuk membantu yang tidak mampu melalui peran pihak – pihak yang tergerak hatinya memberi bantuan.
  • Lingkungan
Suasana dan dan kondisi yang khas mewarnai kenangan para alumni. Selain suasana kedamaian perkampungan yang mendasari pemahaman sosial kehidupan kemasyarakatan, juga karena kenangan yang cukup menarik oleh bunyi kereta api lewat yang selalu didengar anak – anak.